Oke, episode pembuka House Season 8 jelas membuat saya agak terharu biru. Setelah penantian lumayan lama dari berakhirnya season 7 yang dramatis, tentunya saya lumayan berdebar-debar excited menyambut episode pertama. Girang macam anak kecil di toko mainan. Tapi agak nyesek juga saat mengetahui inilah season perpisahan. Ah...
Twenty Vicodin, begitu judul episode pertama. Di tengah haru biru antara girang dan sedih, 15 menit pertama langsung menghentak. Singkat cerita, House yang sedang dipenjara, langsung mendiagnosis sesama narapidana yang mengeluhkan sakit dengaaaaannnn.....(drum roll)....Lupus! "It's Lupus". Dan ya, dia berkali-kali mengucapkannya untuk meyakinkan sang dokter yang bertugas di penjara. Whoaaa...
Jadi mikir. Eh, ini House bukan ya? Hahahaaa...agak ironis kalau ingat bahwa seorang dokter House yang punya mantra andalan: "People don't change" ternyata bisa berubah! Mungkin sebuah pertanda ya..untuk mengakhiri kejayaan serial itu setelah (menuju) 8 tahun. House memang sudah banyak berubah. Jajaran pemerannya, hingga konfliknya yang semakin rumit dan berliku. Mungkin memang sudah saatnya.
Twenty Vicodin, begitu judul episode pertama. Di tengah haru biru antara girang dan sedih, 15 menit pertama langsung menghentak. Singkat cerita, House yang sedang dipenjara, langsung mendiagnosis sesama narapidana yang mengeluhkan sakit dengaaaaannnn.....(drum roll)....Lupus! "It's Lupus". Dan ya, dia berkali-kali mengucapkannya untuk meyakinkan sang dokter yang bertugas di penjara. Whoaaa...
Jadi mikir. Eh, ini House bukan ya? Hahahaaa...agak ironis kalau ingat bahwa seorang dokter House yang punya mantra andalan: "People don't change" ternyata bisa berubah! Mungkin sebuah pertanda ya..untuk mengakhiri kejayaan serial itu setelah (menuju) 8 tahun. House memang sudah banyak berubah. Jajaran pemerannya, hingga konfliknya yang semakin rumit dan berliku. Mungkin memang sudah saatnya.

